SKK Migas Berikan Penghargaan Kinerja Eksplorasi

IMG-20160519-WA0024

Hai, Sobat Migas!

Hari ini SKK Migas memberikan penghargaan kepada kontraktor-kontraktor KKS yang telah berhasil meunjukkan kinerja baik dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas). Penghargaan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu kategori Biru, Hijau, dan Kategori Khusus yang terdiri dari dua bagian. Untuk kategori khusus, penghargaan dibagi atas pencapaian kontraktor dalam melakukan exploration effort menuju komersialisasi secara cepat dan efektif dan kategori khusus kedua ditujukan bagi Kontraktor KKS yang tetap melanjutkan kegiatan eksplorasi secara optimal walaupun pasca produksi.

Sebelum pemberian penghargaan, Kepala Divisi Pengawasan Realisasi Komitmen Rencana Pengembangan Lapangan (PRKRPL) Nizar Mujahidin memberikan paparan mengenai data kegiatan industri hulu migas. Dalam keterangannya, Nizar Mujahidin menyampaikan bahwa terdapat korelasi positif antara pertambahan jumlah wilayah kerja dan harga minyak dunia. Nizar Mujahidin juga menyampaikan bahwa tantangan ke depan industri hulu migas terkait dengan pengelolaan cadangan migas.

Sambutan dilanjutkan oleh Wakil Kepala SKK Migas, M. I. Zikrullah, yang membahas mengenai bagaimana pelaku industri sektor hulu migas dapat memandang kondisi migas di Indonesia saat ini, dan kaitananya dengan peranan SKK Migas. Menurut laporan pemaparan data, kendala regulasi sekarang sudah turun menjadi 25%, dan lebih besar kendala KKKS, yaitu 28%.

“Oleh karena itu kami terus bertanya, apa masalahnya dan apa yang bisa kami upayakan,” ujar M. I. Zikrullah. Dirinya menyatakan bahwa SKK Migas juga telah menyarankan untuk diberlakukannya aturan migas dalam menghadapi kondisi-kondisi tertentu seperti sekarang. “Usaha yang dilakukan di hulu migas harus dipersepsikan sebagai pejuang-pejuang energi. Friendly speaking, bapak ibu yang terjun langsung di hulu inilah pejuang-pejuangnya,” ungkapnya lagi. Sekarang juga sudah diluncurkan rekomendasi mengenai pengadaan Kilang Mini, sehingga proses bisa berjalan lebih cepat. Oleh karena itu pelaku industri migas tidak pelu ragu untuk memperjuangkan kegiatan industri hulu migas dan mengusahakan produktivitas untuk hasil yang lebih baik.

Advertisements

Pemerintah Perlu Mengimplementasikan Kebijakan Yang Lebih Menarik Untuk Menjaga Minat Investor

SKK MIGAS: PERLU STIMULUS UNTUK DORONG INVESTASI

perlu stimulasi dorong

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai perlu ada stimulus untuk menarik investor agar berminat menanamkan modalnya pada sektor hulu minyak dan gas (migas) di Indonesia. Terlebih, saat ini investor masih menghadapi banyak permasalahan di sektor hulu migas yang menghambat dalam pengembangan usaha.

Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi menjelaskan, peringkat investasi di sektor hulu migas Indonesia berada di level 113 dari 126 negara. “Hal tersebut menunjukkan bahwa minat investasi penanam modal masih rendah. Minat investasi di sektor hulu migas Indonesia nomor 13 dari yang terbawah,” ungkap Amien saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, 22 Februari 2016.

Dia menjelaskan, ada banyak persoalan yang membuat minat investasi di sektor hulu migas minim. “Beberapa masalah tersebut adalah regulasi yang masih tumpang tindih dan tidak konsisten,” jelasnya.

Selain itu, kualitas infrastruktur belum mampu untuk mendukung sektor hulu migas. Kendati begitu, lanjutnya, ada hal yang membuat sektor hulu migas di Indonesia lebih menarik dibandingkan dengan beberapa negara lain.

“Seperti Indonesia dinilai memiliki tenaga kerja yang terlatih. Situasi politik yang stabil juga menjadi daya tarik lainnya. Hal itu turut mendorong investasi hulu migas di Indonesia,” ujarnya.

Amien menambahkan, saat ini ada 314 Wilayah Kerja (WK) Migas di Indonesia. Sebanyak 61 WK mengalami terminasi, 84 sedang eksplorasi, 67 produksi dan17 pengembangan. Hal itu menunjukan yang melakukan eksplorasi cukup banyak, sehingga diharap dari eksplorasi tersebut akan ditemukan cukup banyak cadangan.

“Mengingat cadangan minyak saat ini jauh lebih kecil, hanya 4 miliar barel bila dibandingkan era 1960 hingga 1970 yang mencapai 20 miliar barel. Pertumbuhan cadangan menurun dikarenakan penemuan cadangan besar tidak berlangsung cepat,” terangnya.