Mimpi Anak Desa Bekerja di Perusahaan Migas Internasional

Nurdin mendorong sebuah personal lift seri terbaru keluar dari garasi. Bersama rekannya, Suhartang, dia membawa salah satu unit emergency rescue seberat dua ton itu ke lapangan terbuka. Dua pemuda yang masih berusia 21 tahun ini mempersiapkan perlengkapan dengan cekatan tanpa hambatan.

Nurdin berdiri di ujung lift yang bisa mengangkatnya hingga ketinggian 20 meter. Dari sana, dia mengecek keselamatan operasi migas di perusahaan migas internasional, Vico Indonesia. Suhartang dan Nurdin adalah potret anak desa yang pernah bermimpi bekerja di perusahaan migas skala dunia.

Mereka cukup beruntung ketimbang jutaan anak muda di Indonesia yang berharap kerja mapan dan bergengsi. Padahal, mereka tak pernah menyangka bisa bekerja di perusahaan itu. “Seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ujar Nurdin.

Vico Indonesia adalah salah satu perusahaan migas internasional yang mendapat Production Sharing Contract (PSC) di area Badak dan Mutiara. Area Badak terletak di Kecamatan Muara Badak, sedangkan Mutiara berada di Kecamatan Muara Jawa. Dua kecamatan ini masuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Mimpi Anak Desa Bekerja di Perusahaan Migas Internasional(3)

Dua tahun lalu, Suhartang dan Nurdin hanyalah anak desa pada umumnya di Kecamatan Muara Badak. Sehari-hari, mereka hanya bisa menatap iri melihat aktivitas karyawan perusahaan migas di desanya hilir mudik dengan mobil perusahaan. Mereka semakin iri jika melihat kebanyakan karyawan tersebut adalah pendatang.

“Ayah sudah meninggal, ibu sudah menikah lagi dan menetap di Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Saya tetap di sini ikut tante yang tinggal di Desa Badak Baru,” ujar Nurdin.

Usai lulus sekolah, Nurdin pernah kuliah dua semester. Karena ayahnya meninggal, ia terpaksa berhenti dan memilih mencari kerja. Nurdin pun bekerja sebagai buruh harian lepas, pindah dari satu proyek ke proyek lain.

Mimpi Anak Desa Bekerja di Perusahaan Migas Internasional(2)

Cerita yang sama juga dialami Suhartang yang pernah bekerja sebagai buruh harian lepas. Proyek yang selesai hanya dalam sebulan itu membuatnya harus berpikir mencari uang lagi di tempat lain. Pemuda dari Desa Toko Lima ini bahkan pernah ditipu seseorang yang menawarkan pekerjaan di perusahaan kontraktor migas. Uangnya melayang, pekerjaan yang dijanjikan juga turut melayang.

Kemudian seorang rekan Suhartang mengajak berjualan udang. Jualan bukan di pasar, tapi di lepas pantai. “Kami menawarkan udang ke kapal tanker yang berada di lepas pantai, dua jam kalau di tempuh dari pelabuhan desa. Untungnya lumayan, bisa menyambung hidup,” katanya.

Saat keduanya sibuk menjalankan pekerjaan kasarnya masing-masing, mereka mendengar pengumuman penerimaan karyawan baru oleh Vico Indonesia yang ditempel di balai desa. “Ini kesempatan mengubah nasib,” kata Nurdin.

Syarat paling utama adalah warga Kecamatan Muara Badak, dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk. Syarat lainnya adalah lulusan SMA atau SMK. Keduanya pun segera mendaftar ke kantor kecamatan. Nurdin mendaftar tepat waktu, sedangkan Suhartang terlambat karena pendaftaran sudah tutup.

“Saya langsung lesu dan kembali bekerja jualan udang. Tapi tak lama, pendaftaran gelombang kedua dibuka karena pendaftar pertama banyak yang tak lulus,” kata Suhartang.

Pada seleksi tahap awal, Nurdin lolos bersama dua anak desa lainnya. Padahal, Vico Indonesia memberikan kuota pelatihan dan magang untuk 10 orang. Di sinilah nasib membawa Suhartang mendapatkan kesempatannya.

Tes pertama yang dijalani adalah tes akademik yang dilaksanakan pihak kecamatan. Rapor sekolahnya menjadi acuan seleksi tahap awal. Dia pun lolos dan masuk ke berbagai tes selanjutnya. Suhartang dan Nurdin lulus dan harus mengikuti pelatihan emergency rescue team.

Bersama anak desa lainnya, dia mengikuti pelatihan selama tiga bulan sejak Oktober 2012. Usai pelatihan, kesempatan yang ditunggu-tunggu datang. Dia bersama 10 rekannya dari berbagai desa di Kecamatan Muara Badak disodorkan kontrak kerja. “Alhamdulillah, sampai detik ini masih tetap merasa bermimpi,” kata Suhartang.

Keduanya kini berperan penting dalam keselamatan operasi migas di Vico Indonesia. Tanggung jawab luar biasa itu sebanding dengan pendapatan yang mereka dapat. Sambil bekerja, keduanya terus mendapat pelatihan keselamatan operasi migas.

“Pelatihan yang sukses kami ikuti, langsung diberikan sertifikat. Sertifikat ini penting untuk kelanjutan karir kami, tidak hanya di Vico Indonesia,” kata Nurdin.

Mereka dibekali penanganan keselamatan kerja operasi perusahaan migas. Tak hanya itu, pelatihan yang rutin mereka ikuti adalah proses pemadaman api di area produksi migas. Bahkan untuk menangani kebakaran akibat semburan gas juga sudah didapatkan.

“Pelatihan untuk semburan api setinggi 150 meter juga pernah kami tangani. Itu pelatihan paling menegangkan,” kata Nurdin.

Menurut Lead Health, Safety and Environmental & Well Integrity Field Badak Vico Indonesia, Sthefrie Mailangkay, agar bisa disebut kompeten dalam bidang emergency rescue, pemuda desa ini harus bekerja dan terus berlatih minimal dua tahun. Jika kemampuan diri terus berkembang seiring pelatihan dan pekerjaan yang diberikan, jaminan pengalaman untuk masa depan yang lebih baik akan mereka pegang.

“Dua sampai tiga tahun nanti mereka akan kompeten di bidang emergency rescue perusahaan migas. Tantangan sekaligus peluang bagi mereka,” kata Sthefrie.

Sthefrie menambahkan, untuk menjadi bagian emegency rescue team tidak mudah. Perlu pemahaman lebih mendetail tentang proses pengoperasian areal migas untuk mencegah kecelakaan kerja. “Dalam proses pencegahan maupun penanganan kecelakaan kerja, mereka harus memahami keseluruhan operasi migas ini,” tambahnya.

Sejak tahun 2011, Vico Indonesia sudah memberikan kesempatan kepada putra daerah untuk bekerja di wilayah operasi mereka. Hingga tahun 2013, tercatat sudah ada 105 pemuda desa dari Kecamatan Muara Badak dan Kecamatan Muara Jawa yang diberi kesempatan itu.

Dari jumlah tersebut, 30 pemuda ambil bagian dalam pelatihan emergency response, sedangkan sisanya ikut pelatihan produksi migas. Untuk masuk dalam pelatihan selama tiga bulan itu, mereka harus bersaing dengan ribuan pemuda desa lainnya. Setelah pelatihan pun, ada sebagian kecil yang tidak disodorkan kontrak kerja.

Kini, Suhartang dan Nurdin bersama anak desa lainnya patut berbangga hati mendapat kesempatan bekerja dan meningkatkan kompetensi di perusahaan migas. Selain jaminan hidup mapan, status sosial yang mereka sandang tentu juga akan semakin meningkat di masyarakat. Ada kebanggaan tersendiri, terutama di hati orangtua mereka.

“Bangga sekali mas. Gaji paling besar untuk orangtua, saya secukupnya saja,” tutup Nurdin.

*penulis terpilih sebagai salah satu pemenang dalam lomba karya tulis untuk media yang digelar SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi

Buletin BUMI Juni 2014

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi Anak Desa Bekerja di Perusahaan Migas Internasional

  1. Cerita menarik bgmn Vico peduli terhadap anak desa setempat. Perlu kita contoh beri kesempatan yg sama buat anak negeri. Jangan hanya utamakan anak pejabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s